CIANJUREKSPRES.ID- Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla merupakan salah satu bencana yang dapat menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Karhutla tidak hanya menyebabkan kerusakan hutan dan lahan, tetapi juga dapat menimbulkan kerugian ekologis, ekonomi, sosial, budaya hingga mengganggu aktivitas masyarakat.
Lantas, apa itu karhutla?
Karhutla adalah peristiwa terbakarnya hutan dan atau lahan, baik yang disebabkan oleh faktor alami maupun aktivitas manusia. Kebakaran ditandai dengan penjalaran api secara bebas yang mengonsumsi bahan bakar berupa vegetasi, serasah atau material lain yang terdapat di kawasan hutan dan lahan.
Ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Berikut 10 penyebab karhutla yang perlu diketahui.
1. Sambaran Petir
Sambaran petir dapat menjadi salah satu penyebab karhutla yang berasal dari faktor alami.
Petir yang menyambar pohon atau semak dalam kondisi kering dapat memunculkan api. Jika kondisi lingkungan mendukung, api kemudian dapat menyebar ke vegetasi di sekitarnya.
Namun, sambaran petir tidak selalu secara langsung menyebabkan kebakaran. Kondisi cuaca, tingkat kekeringan, jenis vegetasi dan kondisi lahan turut menentukan apakah api dapat muncul dan berkembang.
2. Letusan Gunung Berapi
Aktivitas vulkanik juga dapat menjadi penyebab alami kebakaran hutan dan lahan.
Saat gunung berapi mengalami erupsi, material vulkanik dan lava bersuhu tinggi dapat membakar pepohonan maupun semak yang berada di jalur alirannya.
Risiko kebakaran dapat semakin besar apabila kawasan hutan di sekitar gunung berada dalam kondisi kering akibat musim kemarau.
3. Musim Kemarau
Musim kemarau menjadi salah satu kondisi yang dapat meningkatkan potensi karhutla.
Curah hujan yang rendah dalam waktu cukup lama menyebabkan tumbuhan, rumput, daun kering dan material organik kehilangan kandungan air. Kondisi tersebut membuat bahan-bahan tersebut menjadi lebih mudah terbakar.
Selain curah hujan, suhu udara, kelembapan, kecepatan angin dan arah angin juga dapat memengaruhi proses penyalaan serta penyebaran api.
4. Kondisi Tutupan Lahan dan Jenis Tanah
Kondisi tutupan lahan dan jenis tanah juga berpengaruh terhadap tingkat kerawanan kebakaran.
Kawasan yang memiliki banyak biomassa atau material vegetasi dapat menyediakan bahan bakar dalam jumlah besar ketika kondisi lingkungan kering.
Salah satu ekosistem yang perlu mendapat perhatian adalah lahan gambut. Dalam kondisi alami, gambut memiliki kandungan air yang tinggi sehingga relatif sulit terbakar. Namun, ketika gambut mengalami pengeringan akibat perubahan tata air atau pembangunan kanal yang tidak memperhatikan kondisi hidrologis, risiko kebakaran dapat meningkat.
5. Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar
Aktivitas manusia menjadi salah satu faktor yang berperan dalam terjadinya karhutla. Salah satunya adalah pembukaan lahan menggunakan metode tebas dan bakar atau slash and burn.
Metode ini terkadang digunakan karena dianggap lebih mudah dan murah untuk membersihkan lahan. Namun, api dapat menyebar ke kawasan lain apabila penggunaannya tidak dikendalikan dengan baik.
Karena itu, pembukaan lahan tanpa menggunakan pembakaran atau zero burning menjadi salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk mengurangi risiko kebakaran.
6. Api Unggun yang Tidak Dipadamkan
Api unggun juga dapat menjadi sumber kebakaran apabila digunakan secara tidak hati-hati.
Api unggun yang ditinggalkan tanpa pengawasan, dibuat terlalu besar atau tidak dipadamkan dengan sempurna dapat menyulut rumput, daun dan vegetasi kering di sekitarnya.
Bahkan, bara yang masih panas dapat kembali menyala dan terbawa angin. Karena itu, masyarakat yang membuat api unggun harus memastikan api dan bara benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.
7. Angin Kencang
Angin bukan selalu menjadi sumber awal kebakaran, tetapi dapat mempercepat penyebaran api.
Tiupan angin dapat membantu mengeringkan bahan bakar alami di sekitar lokasi kebakaran. Ketika api sudah menyala, angin juga dapat membuat proses pembakaran berlangsung lebih cepat dan membantu api menjalar ke area yang lebih luas.
Kondisi ini membuat kebakaran yang awalnya berskala kecil dapat berkembang menjadi lebih besar apabila tidak segera ditangani.
8. Aktivitas Perburuan Satwa Liar
Aktivitas manusia di kawasan hutan, termasuk perburuan satwa liar, juga dapat meningkatkan risiko kebakaran apabila melibatkan penggunaan api.
Misalnya, api yang digunakan untuk memasak atau membuat api unggun dapat menjadi sumber kebakaran apabila ditinggalkan tanpa pengawasan.
Karena itu, setiap aktivitas di kawasan hutan perlu dilakukan dengan memperhatikan keselamatan dan kondisi lingkungan, terutama ketika memasuki musim kemarau.
9. Kelembapan Udara Rendah
Kelembapan udara turut memengaruhi kadar air pada bahan bakar alami di kawasan hutan dan lahan.
Ketika kelembapan udara rendah, daun, ranting, rumput dan material organik lainnya dapat lebih cepat mengering. Kondisi tersebut membuat bahan-bahan tersebut lebih mudah terbakar ketika terkena sumber api.
Curah hujan juga berperan dalam menjaga kelembapan bahan bakar alami, terutama ketika wilayah memasuki periode musim kering.
10. Serasah Daun Kering dan Pembakaran Padang Penggembalaan
Tumpukan daun kering atau serasah dapat menjadi bahan bakar yang membantu api menyebar lebih cepat.
Serasah memang bukan sumber api utama, tetapi keberadaannya dapat memengaruhi perkembangan dan perilaku api ketika kebakaran sudah terjadi.
Selain itu, pembakaran padang penggembalaan pada musim kemarau juga dapat meningkatkan risiko kebakaran. Aktivitas tersebut terkadang dilakukan untuk merangsang pertumbuhan rumput muda sebagai pakan ternak.
Namun, api dari pembakaran rumput, semak dan ranting dapat menjalar ke kawasan lain apabila tidak dikendalikan dengan baik.
Cara Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan
Pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan masyarakat, pemerintah dan berbagai pihak terkait.
Masyarakat dapat ikut mencegah kebakaran dengan tidak menggunakan api untuk membuka lahan, tidak meninggalkan api unggun sebelum benar-benar padam serta menghindari aktivitas pembakaran di kawasan yang memiliki banyak vegetasi kering.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan ketika memasuki musim kemarau, khususnya di wilayah yang memiliki banyak bahan bakar kering dan ekosistem yang rentan terhadap kebakaran.
Dengan mengetahui apa itu karhutla serta berbagai penyebabnya, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan dan ikut mencegah kebakaran hutan dan lahan.
Pencegahan sejak dini menjadi langkah penting karena karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan, aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat secara luas.












