KDM Apresiasi 486 Relawan Pemadam Karhutla Gunung Gede

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berbincang dengan para relawan dan masyarakat yang terlibat dalam penanganan kebakaran di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), di Wisata Alam Pangsalatan, Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur.(Foto : Cianjur Ekspres/Dede Sandi Mulyadi)

CIANJUREKSPRES.ID – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan apresiasi kepada 486 relawan yang terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Apresiasi tersebut diberikan dalam kegiatan yang berlangsung di kawasan Wisata Alam Pangsalatan, Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Rabu 2 September 2026.

Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 486 relawan menerima bantuan sebesar Rp600 ribu per hari. Besaran bantuan yang diterima disesuaikan dengan lama keterlibatan masing-masing relawan dalam penanganan kebakaran di kawasan TNGGP, dengan masa keterlibatan maksimal selama 10 hari.

Bantuan tersebut akan disalurkan melalui transfer Bank BJB kepada relawan yang telah terdaftar.

Perwakilan Sukarelawan Indonesia Pembela Alam (RIMBA), Eko Wiwid, mengapresiasi perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM kepada para relawan yang terlibat dalam upaya pemadaman kebakaran di kawasan Gunung Gede Pangrango.

Menurut Eko, perhatian dan apresiasi tersebut menjadi penyemangat bagi para relawan serta masyarakat yang telah bersama-sama turun ke lapangan membantu penanganan kebakaran.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kepedulian Kang Dedi Mulyadi dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Beliau datang langsung dan memberikan perhatian kepada teman-teman relawan yang ikut terlibat dalam pemadaman kebakaran di Gunung Gede Pangrango. Bagi kami, ini tentu menjadi penyemangat,” ujarnya.

Eko menegaskan, nilai utama dari apresiasi tersebut bukan semata-mata terletak pada nominal bantuan yang diberikan. Lebih dari itu, perhatian pemerintah dinilai menjadi bentuk kepedulian terhadap perjuangan masyarakat dan relawan dalam menjaga kawasan Gunung Gede Pangrango.

“Kalau berbicara nominal, itu bukan ukuran bagi kami. Nilai yang paling penting adalah kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian untuk menjaga hutan. Apa pun bentuk apresiasi yang diberikan, kami melihatnya sebagai bentuk perhatian dan penghargaan kepada teman-teman yang telah bersama-sama berjuang di lapangan,” katanya.

Ia menjelaskan, data relawan yang menjadi dasar pemberian apresiasi berasal dari daftar kehadiran selama masa tanggap darurat. Data tersebut sebelumnya digunakan untuk mendata kebutuhan logistik dan konsumsi bagi relawan yang terlibat dalam upaya pemadaman kebakaran.

“Data awalnya berasal dari daftar relawan yang masuk ke lokasi untuk kepentingan pendistribusian makanan. Jadi, bukan sejak awal dibuat untuk keperluan pemberian uang. Namun, data tersebut kemudian menjadi dasar untuk mendata teman-teman yang benar-benar terlibat selama penanganan kebakaran,” jelasnya.

Menurut Eko, apresiasi tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras relawan dan masyarakat di sekitar Gunung Gede Pangrango mendapat perhatian dari pemerintah.

Ia berharap semangat kepedulian dan gotong royong yang terbangun selama penanganan kebakaran dapat terus terjaga.

“Yang terpenting, kami berharap semangat kepedulian dan gotong royong ini terus terjaga. Ketika hutan dan Gunung Gede Pangrango membutuhkan bantuan, semua pihak bisa bergerak bersama tanpa melihat kepentingan masing-masing,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *