CIANJUREKSPRES.ID– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peta terbaru Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut yang diperbarui pada 10 Juli 2026. Hasil pemantauan menunjukkan sejumlah wilayah di Indonesia mulai mengalami periode tanpa hujan dengan durasi yang bervariasi, mulai dari kategori sangat pendek hingga ekstrem panjang.
Berdasarkan peta tersebut, wilayah Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi bagian selatan, hingga beberapa daerah di Maluku menjadi kawasan yang didominasi kategori hari tanpa hujan menengah hingga sangat panjang. Bahkan, beberapa titik di Jawa dan Nusa Tenggara tercatat telah memasuki kategori ekstrem panjang, yakni lebih dari 60 hari tanpa hujan.
BMKG mengklasifikasikan kondisi hari tanpa hujan ke dalam beberapa kategori, yaitu 1–5 hari (sangat pendek), 6–10 hari (pendek), 11–20 hari (menengah), 21–30 hari (panjang), 31–60 hari (sangat panjang), serta lebih dari 60 hari (ekstrem panjang). Sementara itu, titik berwarna hijau tua menandakan wilayah yang masih mengalami hujan hingga waktu pembaruan data.
Sebaliknya, sejumlah wilayah di Sumatera bagian utara, Kalimantan, Papua, serta sebagian kawasan di Sulawesi masih menunjukkan kondisi yang relatif lebih basah karena hujan masih terjadi di beberapa lokasi pengamatan.
Fenomena hari tanpa hujan yang semakin panjang menjadi salah satu indikator musim kemarau yang sedang berlangsung di berbagai daerah. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, gangguan sektor pertanian, serta meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang telah memasuki kategori sangat panjang hingga ekstrem.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau. Pengelolaan cadangan air, efisiensi penggunaan air, serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran lahan menjadi langkah penting selama periode kering berlangsung.
Masyarakat juga diharapkan terus memantau informasi cuaca dan iklim terbaru yang dikeluarkan BMKG sebagai acuan dalam merencanakan aktivitas sehari-hari, khususnya bagi sektor pertanian, perkebunan, dan pengelolaan sumber daya air.
Data pada peta ini merupakan hasil pemantauan BMKG hingga 10 Juli 2026, dengan pembaruan berikutnya dijadwalkan pada 20 Juli 2026.












